about the birth of our first son

ide ceritanya didapat dari postingan berlari setelah melahirkan

Rabu, 10 Agustus 2016

Saya masih inget jelas kejadian hari itu. Pagi” pas saya mau siap” berangkat ke kantor, istri saya mengeluh sakit perut hebat

“Perutku sakit banget mas. Sudah dari jam 1 pagi…”

Mengingat ini adalah gejala” melahirkan, saya minta izin cuti sama atasan saya viaWhatsApp. Pagi itu juga, ibu mertua yang memang kami datangkan dari Aceh, berusaha menggunakan segala macam cara untuk menenangkan istri saya…

Saya? Tentu saja panik!!

Segera saya kirim pesan ke bidan Maya di Citayam untuk segera mengirimkan tenaga medis ke kontrakan kami. Sedari awal kami sudah niat homebirth, btw.

Jam setengah sepuluh, akhirnya mereka tiba. Setelah melalui beberapa pemeriksaan, ternyata masih bukaan 2.

“Dari gambarannya, sepertinya ini masih lama. Kami pamit pulang dulu ya, pak. Terus kabari kondisi Ibu ya…”

Sekali lagi, istri yang masih kesakitan kalau ngapa”in dan gak ngapa”in membuat kami jungkir balik melakukan segala upaya agar rasa sakitnya berkurang. Dipijet” lah. Disayang” lah. Pokoknya ANYTHING

Jam setengah 3 sore, merembeslah air ketuban. Gak pake lama, saya langsung telpon bu bidan

“BU, INI AIR KETUBANNYA SUDAH MEREMBES. SEGERA KE SINI YA!!”

Tentu saja saya panik secara ini adalah proses kelahiran pertama yang saya ikuti. Kelahiran Shafiyyah di Aceh gak bisa saya dampingi karena masih kuliah saat itu. Sedih deh…

Setelah datang, ternyata sudah bukaan 5 sodara”!! Ya Rabb, bukaan kok lama banget dah. Bidan Maya, dibantu dua asistennya, segera mengalemkan istri saya. Intinya, sang Ibu tidak boleh panik. Melahirkan adalah proses alamiah bagi setiap makhluk. Apalagi ini adalah VBAC pertama istri. Latihan pernapasan sangat penting

“Coba keluarkan suara seperti ular, bu. Sssss…..sssssss…ssssss….. begitu”

Ajaib, cara ini efektif lho!

Mengingat kami di rumah dan privasi milik kami pribadi, istri mulai menggunakan segala macam posisi agar bayi segera lahir. Mulai dari pake gymball, telentang, sampe nungging semua dicoba

Adzan Maghrib berkumandang dan masih bukaan 6. Hampir segala macam doa saya ucapkan agar Ibu dan bayi selamat. Lalu, adzan Isya berkumandang lagi. Total hampir 12 jam lebih sudah istri saya mengalami kontraksi. Sakit dan lelahnya jangan ditanya

Alhamdulillah, mulai dari jam 7, proses bukaan berjalan lancar. Bukaan 7….bukaan 8…..dan tepat pukul 20.15, akhirnya Hanzhalah lahir!!!!

Prosesnya penuh drama juga. Saat kepala bayi sudan kelihatan, saya jadi ketakutan sendiri. Bagaimana mungkin sesuatu yang besar bisa keluar dari lubang yang kecil. Takut mual, akhirnya saya yang sudah berniat membantu jadi jiper sendiri. Saya pindah posisi untuk ngelap keringet di wajah istri saya.

Gak hanya itu, si bayi pas keluar juga gak bersuara sama sekali. Saya takut dia….meninggal.

Tapi, bidan Maya memang berpengalaman. Segera dia masukkan selang plastik kecil ke dalam mulut bayi sambil dipuk” lembut punggungnya.

Detik” yang mendebarkan sampai dia terbatuk dan menangis yang pertamakalinya.

Huaaa…..Hanzhalah selamat datang di dunia ya, le…

Iklan

Penulis: deadyrizky

just a blogger

10 tanggapan untuk “about the birth of our first son”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s