loving my kids in my own way

wahai saudaraku…

anak adalah nikmat yang Allah anugerahkan kepada setiap orangtua dan sekaligus fitnah bagi keduanya. Merekalah aset termahal kita, merekalah simpanan yang paling berharga, merekalah tumpuan harapan kita. Akankah kita rela perhatian mereka dicuri orang lain?! Akankah kita tega membiarkan masa emasnya terbuang sia” dengan percuma?! Akankah kita percayakan waktu berharganya habis bersama babysitter yang tidak kenal syariat agama?! Akankah kita merasa aman dari tipu daya setan yang siap menjerat leher” mereka?!

wahai para bapak…

mengapa kalian terlena dengan kesibukan duniawi yang nisbi sementara anak” kalian mengais kasih sayang di jalanan?!

wahai para ibu…

tidakkah kalian sadar? anak” kalian merintih, menangis, bahkan meronta” dalam penjara rumah kalian, sementara kalian bercanda, tertawa terbahak” bersama teman kerja yang tidak mendatangkan kecuali kerasnya hati dan jiwa kalian.

wahai para orangtua…

mengapa kalian tega meninggalkan buah hati kalian bersama pembantu rumah tangga demi mengejar karir dan prestasi yang belum pasti…

kembalilah kalian, kembalilah bersama mereka, rengkuhlah mereka dengan mesra, dekaplah mereka dengan penuh kasih sayang dan kelembutan, ajari dan bimbinglah mereka dengan sepenuh hati dan jiwa. Mereka membutuhkan bimbingan, pendidikan, nasehat, dan peringatan. Mereka sangat haus dengan ilmu syar’i melebihi hausnya mereka dari sekedar minuman tersegar di tengah terik mentari, mereka sangat lapar dengan hidangan gizi Ilahi melebihi laparnya mereka dari sekedar makanan yang paling bergizi…

Iklan

real happiness

terkadang…

Kalau melihat kawan kantor sudah memiliki mobil, saya jadi berandai”, enak kali ya kalau punya mobil. Anak sudah 2. Kasihan mereka panas”an terus naik motor. Kalo macet”an di dalem mobil, mungkin mereka gak bete lagi. Hepi. Kan adem dan tertutup

lalu saya mikir….

Lah rejeki masing” kan beda”. Yang saya lihat memang mereka punya mobil, tetapi ternyata mereka belum punya rumah. Sedangkan saya sudah memiliki rumah. Dibantu Allah lagi dalam proses mendapatkannya. Lagipula, kalo mau ke mana” tinggal pesen taksi online saja cukup. Mudah. Gak ribet

terkadang…

Di satu malam, saya dapat tertawa” bersama anak” dan istri. Kadang juga, besoknya ada aja yang membuat hati ini kesel. Mau anak yang gak nurut lah, cekcok sama istri lah, ini lah, itu lah

lalu saya mikir…

Harusnya saya bersyukur memiliki keluarga yang sehat”… Alur nasib telah membawa saya kepada jalur “telah-memiliki-2-anak-menjelang-3″. Padahal ada kawan yang sekarang mendamba dalam memiliki jodoh, ada juga yang sudah lama nikah tetapi belum dikaruniai anak, ada juga yang sudah memiliki anak tetapi anaknya harus diberi perlakuan khusus…

terkadang….

Saya punya pikiran, kok rasanya susah sekali nabung. Penghasilan seringkali berkurang untuk pos” yang gak direncanakan sebelumnya

lalu saya mikir lagi…

Lah masih enak saya punya gaji bulanan yang jauh melebihi UMR. Kalo pensiun, dapat pensiun lagi. Dibandingkan dengan kawan” yang kerja di pabrik dan/atau harus berpanas”an demi pergi kulakan, tentu saja saya jauh lebih beruntung dapat duduk bekerja di kursi yang empuk di ruangan ber-AC.

Bersyukurlah…

Niscaya nikmatmu akan ditambah…

Jika engkau sedih…

Maka ingatlah, bahwa di dunia ini tidak ada kebahagiaan yang hakiki…

Kebahagiaan yang hakiki ya di surga…

Sungguh benar perkataan ulama zaman dulu

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu berkata:

مع كل فرحة ترحة.

“Bersama setiap kegembiraan ada kesedihan.”

Shahih, az-Zuhd karya Abdullah bin al-Mubarak, no. 347

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata:

ما ملئ بيت حبرة إلا يوشك أن يُملأ عبرة.

“Tidaklah sebuah rumah dipenuhi dengan kenikmatan dan kebahagiaan kecuali sebentar lagi akan dipenuhi dengan air mata dan tangisan.”

Shahih, az-Zuhd karya Abu Dawud, no. 145

Baarakallahufiikum