shafiyyah 4 years

Juni 2014

Setelah hampir lebih dari 5 jam berusaha melahirkanmu melalui proses normal, akhirnya Ibumu menyerah juga, nak. Ia relakan perutnya untuk dibedah hanya untuk mengeluarkanmu… Seorang bayi merah gemuk bermata sipit yang kata orang yang melihatmu…. Aduh cantik sekali…

Kehadiranmu sungguh memberikan warna bagi kami, nak. Setelah 4 bulan menikah dan hasil testpack yang senantiasa negatif, kami akhirnya mengikuti program agar Ibumu bisa hamil. Syukur alhamdulillah, percobaan pertama berjalan sukses dan akhirnya Ibumu mengandungmu…

Kedatanganmu ke dunia membuat banyak orang bahagia, nak. Engkaulah cucu pertama dari keluarga Ayah dan Ibumu. Tak terhitung senyum yang terkembang dan rasa syukur yang terucap saat Kakek, Mami, Uti, dan Mbah menggendongmu dan mendekapmu…

Selama 4 tahun, kamu menemani kami berpindah kontrakan dari Bintaro, Cilebut, Ciparigi, hingga sekarang yang terakhir insyaAllah di Ciburial. Mulai dari rela berhujan”an ke Cileungsi, berdesak”an di transjakarta ke Slipi, hingga sempit”an di atas motor bebek ke Puncak sudah kau lalui semua. Sungguh engkau anak yang tangguh, nak…

4 tahun sudah. Engkau suka sekali bermain make up milik Ibumu atau main masak”an dengan teman imajinermu. Sayangnya, terkadang kamu masih belum mau ngalah dengan adikmu. Ingat ya sayang, akhir tahun ini, adikmu bakalan ada 2. Sering” ngalah ya nak. Jadilah kakak yang baik…

4 tahun sudah. Kalo di rumah, seringkali engkau kecentilan sendiri kalo lagi ngaca. Alhamdulillah perilaku itu gak kamu lakukan kalau kami bawa ke masjid. Engkau diam dan duduk dengan anteng dan anggun selayaknya anak perempuan… Tapi sapaan dari jamaah yang lain jangan lupa kamu jawab, nak. Terlalu diam juga gak bagus, sayang…

4 tahun sudah. Tak terasa bayi cantik itu akan masuk sekolah TK tahun ini. Berjanjilah untuk selalu menjadi anak Ayah dan Ibu yang shalehah ya, nak. Ayah dan Ibu sayang Shafiyyah…

Iklan

surabaya update 11 juni 2018

  1. Masjid Al Iman Sutorejo sekarang menerapkan manajemen “get your own ifthar”. Jadi begitu jamaah sampai di masjid, mereka akan disambut 2 line. Pria dan wanita. Setelah ngantre, mereka akan diberi teh, kurma, jajanan, dan kupon nasi kotak (untuk ditukar setelah shalat Maghrib). Pros: mengurangi kekacauan seperti kurangnya jatah orang lain jika makanan dihidang, lebih tertib karena setelah makan mereka akan buang sampah masing” ke tong sampah. Cons: kenapa gak diterapin dari dulu yak. Ide brilian ini.
  2. Spanduk #KamiTidakTakut dan #TerorisJancok masih dapat ditemui di beberapa penjuru kampung dan jalan” arteri. Surabaya gak akan kalah oleh aksi terorisme…
  3. Muter” keliling Surabaya sekarang banyak perubahannya. Kali Mas sepanjang Siola sampai Monkasel sekarang ada lampu hiasnya. Cantik deh. Sayangnya cuman sampai situ doang. Kalau sepanjang Kayoon juga dipasang tentunya akan membuat wisata kuliner di Kayoon jadi lebih instagrammable yah.
  4. Trotoarnya lebar”. Saya perhatikan di sepanjang Siola, Urip Sumoharjo, Raya Darmo sampai Basuki Rahmat sekarang kalo malem banyak pemuda nongkrong. Kemarin malem saya lihat sih kebanyakan pada main gawai. Pada bikin instastories atau youtube entahlah. Yang pasti nongkrong di sana jadi nyaman selain karena lebar dan bersih, juga bebas dari PKL.
  5. Tunjungan Plaza saiki gedunge dhuwur rek. Manglingi banget! Senengnya, fasad depan dari eks Toko Nam dibiarin. Alhamdulillah, cagar budaya ituh.
  6. Cuman perasaan saya aja apa sentra kuliner di Surabaya sekarang makin banyak ya. Bagusnya, kebanyakan yang saya lihat sih rame semua euy. Ancen wong Suroboyo senengane andok (makan di luar rumah)! Hahaha

breaking the fast with old friends

Menjelang Lebaran dan dimulainya musim mudik, undangan buka bersama datang bertubi”. Well, saya bukannya gak setuju dengan konsep buka bersama. Tidak. Saya setuju sekali malah

Malahan, Sabtu kemarin, segenap pengurus dan calon wali murid TK dan TA Anshorussunnah Bogor mengadakan buka bersama di rumah Brigadir Polisi Miyadi alias Abu Nafisah. Tujuan dari buka bersama kala itu jelas. Dimulai pukul 16.30 untuk berdiskusi tentang tahun ajaran baru TA dan TK Anshorussunnah dan pengelolaan ta’lim di Kota Bogor pasca Ramadhan, alhamdulillah diskusi berjalan lancar hingga Maghribpun tiba.

Selepas shalat Maghrib berjamaah, kami pun melanjutkan diskusi dengan menyantap makan malam yang sudah disediakan sampai dengan adzan Isya berkumandang. Setelah itu, kami pamit kepada Abu Nafisah untuk melanjutkan shalat tarawih di tempat masing”.

Konsep seperti itu yang saya suka. Jelas. Gak neko”. Focused.

Masalahnya, kebanyakan bukber yang pernah saya ikuti biasanya mengandung satu atau seluruh unsur dari

  1. Ngomong ngalor-ngidul membahas nostalgia masa lalu
  2. Foto” dan update di media sosial
  3. Ngomong ngalor-ngidul lagi hingga bablas gak shalat tarawih

Bagi saya yang gak suka foto”, ngomong ngalor-ngidul (I’m an introvert, by the way), dan sengaja memfokuskan diri agar rutin tarawih di Ramadhan kali ini, tentu saja undangan bukber” tersebut saya abaikan.

Jadii…….

Maafkan aku ya teman” esemaku yang kurindukan, undangan buka bersama di Gresik terpaksa tidak aku hadiri…

Have fun, guys!

Baarakallahufiikum

N.B. Faktor istri lagi hamil, anak yang lagi aktif”nya, dan kemampuan nyupir yang gak mahir” amat sebenarnya memegang peran penting di sini. Xixixi

tiring prayer

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

ﺇﻥَّ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ﻟَﻴُﺼَﻠِّﻲ ﺳِﺘِّﻴﻦَ ﺳَﻨَﺔً ﻣَﺎ ﺗُﻘْﺒَﻞُ ﻟَﻪُ ﺻَﻼَﺓٌ، ﻟَﻌَﻠَّﻪُ ﻳُﺘِﻢُّ ﺍﻟﺮُّﻛُﻮﻉَ ﻭَﻻَ ﻳُﺘِﻢُّ ﺍﻟﺴُّﺠُﻮﺩَ، ﻭَﻳُﺘِﻢُّ ﺍﻟﺴُّﺠُﻮﺩَ ﻭَﻻَ ﻳُﺘِﻢُّ ﺍﻟﺮُّﻛُﻮﻉَ.

“Sungguh ada seseorang yang benar-benar mengerjakan shalat selama 60 tahun namun tidak ada yang diterima shalatnya walaupun hanya sekali saja, hal itu mungkin karena dia menyempurnakan rukuk namun tidak menyempurnakan sujud, atau dia menyempurnakan sujud namun tidak menyempurnakan rukuk.

Silsilah ash-Shahihah, no. 2535

*

Suatu malam, karena waktu sudah mepet, saya harus menunaikan shalat tarawih di dekat Stasiun Cilebut. Prosese shalat isya berjalan lancar. Khidmat. Khusyu’.

Setelah itu, saya bertanya ke orang sebelah saya

“Pak, ini tarawihnya berapa rakaat? 11 atau 23?”

“………….23, mas”

Supaya lebih mempersiapkan diri, mengingat waktunya yang kemungkinan besar akan berjalan lama, saya buang air kecil dulu di kamar mandi. Setelah itu, bersiaplah saya tarawih. Eh, orang di sebelah saya tadi nyeletuk

“Wah, imamnya yang ini cepet banget, mas”

Sekelebatan dari shaf belakang, ya memang imamnya ganti sih. Gak nyangka, omongan si bapak terbukti. Shalatnya emang bener cepett bangetttttttt. Bayangin, 20 rakaat kami tempuh dalam waktu sesingkat-singkatnya 20 menit kurang. Berarti kalo dirata” ya 1 rakaatnya kurang dari semenit

Iki shalat model opo ya. Berasa banget lho gak ada tuma’ninahnya kalo pake standar saya. Baru ruku’, eh udah berdiri. Baru berdiri, eh udah sujud. Baru sujud, eh udah duduk. Lah, saya aja belum baca bacaan” ruku, i’tidal, dan sujud, nih imam udah main lanjut aja.

Bukannya enak, malah badan pegel banget karena gerakannya yang simultan dan kecepetan. Saya jadi inget hadits di atas. Duh nyesel lah shalat tarawih di masjid itu lagi…

Baarakallahufiikum

goodbye mr zulkarnain

Senin pagi, 4 Juni 2018, tiba” Ibu saya mengirimi saya pesan WA

Innalillahi wainna ilaihi rojiun telah meninggal dunia bpk.zulkarnain td siang smg amal ibadahnya diterima Alloh swt dan diampuni dosa2nya & husnul khotimah Aamiin2 yra

pikiran saya jadi melayang ke peristiwa 5 tahun lalu

*

Rencana pernikahan saya dengan istri saya memang nekat. Setelah bertukar biodata pada Januari dan proses nadzor pada Februari, kedua belah pihak setuju untuk melakukan prosesi lamaran di Maretnya.

Ibu saya tentu kalang kabut mengingat Bapak saya gak mau menemani Ibu saya terbang ke Lhokseumawe. Takut dan males terbang, katanya. Gawat ini. Yang namanya proses lamaran kan harus ada “wakil laki-laki” dari keluarga saya yang nantinya akan “meminta” kepada pihak perempuan.

Ibu saya kemudian memutar otak. Dihubungilah tetangga”nya di sekitar Sutorejo, ada tidak yang punya kawan Aceh. Tak disangka, ternyata ada!! Salah satu tetangga kami rupanya pernah memiliki kawan kuliah dari Aceh. Setelah lulus dari Universitas Negeri Surabaya, beliau lanjut S2 di ITB lalu mengabdi di Lhokseumawe sampai saat ini.

Nama beliau Zulkarnain. Dosen di Fakultas Teknik Politeknik Negeri Lhokseumawe.

Sehari sebelum proses lamaran, beliau mengajak kami untuk menginap di rumah beliau di daerah Punteut. Setelah ketemu, maasyaAllah, walaupun beliau orang Aceh, ternyata logat Surabayanya kental sekali. Kami jadi merasa homey di rumah beliau. Apalagi kami dijamu dengan sangat baik.

Malam itu juga beliau mengajak berdiskusi apa” yang akan beliau lakukan esok sekaligus menyiapkan seserahan. Besoknya, kami diantar beliau ke Batuphat. Malu juga ya, padahal kami yang punya gawe, tapi malah merepotkan…

Alhamdulillah, setelah basa-basi dengan menggunakan bahasa Aceh yang saya gak paham (sampai saat ini. Hehehe), lamaran kami diterima, dan proses pernikahan dapat dilangsungkan di bulan April.

Beliau berjanji datang di pernikahan kami di Kuala Simpang. Alhamdulillah janji tersebut memang ditepati. Bahkan, beliau datang lebih awal, bukan saat resepsi, tetapi saat akad.

Setahun kemudian, setelah anak pertama kami lahir, kami menyempatkan diri lagi untuk bertamu ke rumah beliau. Alhamdulillah beliau masih ingat. Beliau pun tidak lupa untuk titip salam ke ibu saya.

Ramadhan tahun 2017, kami menyempatkan diri lagi ke rumah beliau. Tak dinyana, rupanya beliau sekarang susah mengingat. Bahkan, kami harus dipandangi lekat” lebih dulu, untuk bisa mengingat siapa kami. Kondisi beliau memang sudah tampak “lelah”. Uban beliau makin banyak. Waktu kami sodori untuk video call dengan Ibu saya, Ibu saya juga memperhatikan perubahan pada fisik beliau.

Sekarang beliau sudah pergi. Tuntas sudah tanggung jawab beliau di dunia. Kedua anak perempuannya sudah lulus S2, menikah, dan memberikannya cucu. Saya masih ingat wejangan beliau

“Nek iso, ojo tinggal ning kene. Lhokseumawe gak ideal buat tempat menghabiskan masa tua, ki…”

Hehehe. Istri saya yang denger jadi mesam-mesem. Piye iki, orang Lhokseumawe kok gak menyarankan tinggal di kotanya.

Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un. Semoga amalmu diterima oleh Allah, pak

Baarakallahufiikum

1001 reason to stay happy and grateful: ramadhan edition

thanks to guru bahasa inggris saya saat esema, ndutyke, for the inspiring theme

  1. Gak telat bangun sahur
  2. We have something to eat for sahur
  3. Pas anak” ikut bangun saat sahur, they don’t create much dramas
  4. Saat bangun paginya, anak” makan dengan lahap dan gak buat drama macem”
  5. Bisa menyempatkan waktu untuk tilawah dan murajaah
  6. Sempet nap time maksimal sejam saat siang hari
  7. Gak kejebak macet saat belanja bahan makanan buat buka puasa (sekalian sahur juga)
  8. We have something to eat untuk buka puasa di rumah
  9. Kalo ikut buka puasa di masjid, menunya macem”. Ehehehehe. Kalo kurma doang juga gak masalah sik
  10. Dapat imam yang ringan saat shalat tarawih. Tidak terlalu panjang, juga tidak terlalu cepat. Ringan saja. Cocok untuk jamaah yang sepuh maupun yang masih muda
  11. Anak” bisa tidur cepat. Soalnya kalo tidurnya malem” bisa gaswat, bisa telat bangun sahur euy.

Dah gitu aja, 11 dari 1001 hal” yang membuat saya bersyukur dan tersenyum di bulan puasa kali ini.

Note:

Iya saya ngerti kenapa kok bisa ada 3 poin tentang anak”. Entahlah ya, being parent itu gak gampang lho. Paling mudahnya, melihat mereka makan dengan lahap dan gak buat drama alias tantrum aja udah ngebuat kami hepi. Hehehe

Baarakallahufikum