along muara bungo and bangko

membaca tulisan GUARDING A HANDFUL OF PARADISE Forest protection through the eyes of two villages membuat saya menjadi nostalgia perjalanan kami ke Taman Nasional Kerinci Seblat bulan Maret lalu….

*

Bekerja di Kementerian Keuangan memang membuka peluang untuk bepergian ke banyak tempat. Kali ini, saya diajak oleh tim dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Flora Fauna Indonesia (FFI) untuk memonitor penggunaan dana UNDP untuk pelestarian harimau sumatera di Taman Nasional Kerinci Seblat.

Mengingat lokasinya yang sangat jauh di pedalaman Jambi, penerbangan dari Jakarta ke Jambi lalu lanjut perjalanan darat sangatlah tidak disarankan. Solusi terbaik adalah menaiki flight ke Muara Bungo lalu lanjut perjalanan darat ke Bangko dan Sungai Penuh. Lebih efisien.

Mengingat bandara Muara Bungo adalah bandara yang kecil, maskapai yang digunakan tentunya bukan maskapai premium. Pilihan pun jatuh ke Nam Air. Maskapai kecil anak perusahaannya Sriwijaya Air. Eh tapi, walaupun maskapai kecil, tapi pesawatnya pake Boeing yang gede itu loh. Dan penumpangnya hampir penuh euy!

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam di udara, sampailah kami di bandara Muara Bungo. To be honest, bandaranya yah.. apa yang mau diharap ya. Gate keberangkatannya aja cuman 1. Bangunannya pun hanya 1 lantai. Lebih mirip terminal bus lah. But overall, adanya bandara ini saja sudah sangat membantu perekonomian Muara Bungo dan sekitarnya.

Bagaimana tidak? Meskipun bandaranya gak terlalu besar, terbukti penumpang Jakarta-Muara Bungo dan sebaliknya hampir selalu penuh. Alhamdulillah. Patut disyukuri upaya pemerintah dalam membangun infrastruktur perhubungan di berbagai daerah.

Dari bandara, kami masih menempuh perjalanan darat lagi sekitar 1,5 jam ke kota Bangko. Di sisi kanan dan kiri, terlihat perkebunan sawit dan perkebunan rakyat. Kalo ngelihat kebun” gitu, saya jadi sedih sih. Itu adalah tanda bahwa hutan Pegunungan Bukit Barisan telah banyak dirambah. Yah not much to see sepanjang perjalanan kecuali hutan, kebun, hutan, kebun.

Sesampainya kami di Bangko, kami langsung meluncur ke markas FFI untuk melakukan diskusi. Diskusi berlangsung sampai sore. Setelah itu kami langsung menuju Hotel Permata untuk beristirahat.

Namanya sih hotel, tapi bentuknya seperti wisma. Front officenya berada di dalam sebuah rumah. Lalu kita akan mendapati sebuah lorong lalu bangunan kamar” yang memanjang ke belakang berbentuk U. Dah gitu aja. Bangunannya juga cuman 1 lantai.

Terus terang, saat itu saya deg”an juga. Lagi berada di pedalaman Jambi gini saya jadi khawatir tidak ada sinyal. Tetapi gak disangka, notifikasi di hp saya menunjukkan sinyal 4G. Ternyata panitia punya alasan memilih hotel yang terpencil ini. Lokasinya ternyata sangat strategis, which is, berdempetan dengan kantor Telkom. Wakakakak. Pantesan sinyalnya kenceng banget.

*to be continued*

Iklan

real happiness

terkadang…

Kalau melihat kawan kantor sudah memiliki mobil, saya jadi berandai”, enak kali ya kalau punya mobil. Anak sudah 2. Kasihan mereka panas”an terus naik motor. Kalo macet”an di dalem mobil, mungkin mereka gak bete lagi. Hepi. Kan adem dan tertutup

lalu saya mikir….

Lah rejeki masing” kan beda”. Yang saya lihat memang mereka punya mobil, tetapi ternyata mereka belum punya rumah. Sedangkan saya sudah memiliki rumah. Dibantu Allah lagi dalam proses mendapatkannya. Lagipula, kalo mau ke mana” tinggal pesen taksi online saja cukup. Mudah. Gak ribet

terkadang…

Di satu malam, saya dapat tertawa” bersama anak” dan istri. Kadang juga, besoknya ada aja yang membuat hati ini kesel. Mau anak yang gak nurut lah, cekcok sama istri lah, ini lah, itu lah

lalu saya mikir…

Harusnya saya bersyukur memiliki keluarga yang sehat”… Alur nasib telah membawa saya kepada jalur “telah-memiliki-2-anak-menjelang-3″. Padahal ada kawan yang sekarang mendamba dalam memiliki jodoh, ada juga yang sudah lama nikah tetapi belum dikaruniai anak, ada juga yang sudah memiliki anak tetapi anaknya harus diberi perlakuan khusus…

terkadang….

Saya punya pikiran, kok rasanya susah sekali nabung. Penghasilan seringkali berkurang untuk pos” yang gak direncanakan sebelumnya

lalu saya mikir lagi…

Lah masih enak saya punya gaji bulanan yang jauh melebihi UMR. Kalo pensiun, dapat pensiun lagi. Dibandingkan dengan kawan” yang kerja di pabrik dan/atau harus berpanas”an demi pergi kulakan, tentu saja saya jauh lebih beruntung dapat duduk bekerja di kursi yang empuk di ruangan ber-AC.

Bersyukurlah…

Niscaya nikmatmu akan ditambah…

Jika engkau sedih…

Maka ingatlah, bahwa di dunia ini tidak ada kebahagiaan yang hakiki…

Kebahagiaan yang hakiki ya di surga…

Sungguh benar perkataan ulama zaman dulu

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu berkata:

مع كل فرحة ترحة.

“Bersama setiap kegembiraan ada kesedihan.”

Shahih, az-Zuhd karya Abdullah bin al-Mubarak, no. 347

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata:

ما ملئ بيت حبرة إلا يوشك أن يُملأ عبرة.

“Tidaklah sebuah rumah dipenuhi dengan kenikmatan dan kebahagiaan kecuali sebentar lagi akan dipenuhi dengan air mata dan tangisan.”

Shahih, az-Zuhd karya Abu Dawud, no. 145

Baarakallahufiikum

fasting effect

Saya bukan tipe orang yang suka mendengarkan ceramah saat shalat tarawih. Tujuan saya datang ke masjid ya untuk shalat tarawih (dan witir). Sisanya saya anggap kurang relevan.

Itulah mengapa, saat saya tinggal di Bintaro, medio 2013-2014, hampir setiap malamnya saya keliling. Tujuannya ya nyari masjid yang gak ada ceramahnya. Mulai dari Masjid An Nuur PJMI, Masjid Al Nashr Sektor 5, Masjid Baitul Maal STAN, sampai dengan masjid di Giant Bintaro, resmi sudah saya jabanin.

Ya saya mah orangnya gitu. Hehehe.

Intinya, kalo saya tahu masjid tersebut ada ceramahnya, saya akan memilih duduk di barisan paling belakang, lalu mengaji dengan suara pelan. Penceramah bisa ceramah dengan tenang, yang ngedengerin bisa menyimak dengan seksama, dan saya bisa mengaji dengan penuh kekhusyukan. Everybody happy lah ya.

Namun, kemarin 28 Mei 2018, di Masjid Al Muhajirin Saba Utama, suasananya terasa berbeda. Isi ceramahnya unik. Memang sih penuh dengan unsur komedi karena hampir sepanjang durasi ceramah, sebagian besar jamaah tertawa. Saya sendiri tidak (tertawa dan ngerti isi ceramahnya) karena ceramah disampaikan dengan bahasa campuran, Indonesia dan Sunda.

Kata bapak imam, yang namanya efek dari puasa kita itu hanya bisa dilihat oleh orang lain. Lalu beliau memberikan contoh, binatang ulat dan ular. Keduanya berpuasa. Ulat berpuasa menjadi kepompong. Lalu sekitar 14 hari kemudian, ia berubah menjadi kupu”. Dari sesuatu yang membikin jijik orang, ia bertransformasi menjadi sesuatu yang indah dan dicintai.

Bagaimana dengan ular? Ia berpuasa juga tentunya. Apakah menjadi indah sebagaimana ulat menjadi kupu”? Oh ternyata tidak. Hasil puasa ular hanya akan menghasilkan kulit yang lebih mengkilat dari sebelumnya. Adapun tabiatnya yang kejam dan bentuknya yang membuat takut orang masih sama saja.

Bagaimana dengan puasa kita? Semoga dengan puasa, kita bisa berubah menjadi kupu” yah. Dicintai banyak orang dengan bertambah baiknya akhlak dan ibadah kita.

Baarakallahufiikum

first post

Malam ini, 26 Mei 2018, pukul 21.19 WIB, kedua anak saya sudah tidur dengan lelap. Begitu juga istri saya. Sepertinya mereka kelelahan setelah sesiangan ini habis ngemall nyari baju lebaran buat anak”.

Dan emang mall rame banget sik. Padahal baru hari kesepuluh Ramadhan lho. Bisa jadi ini dipicu oleh terbitnya aturan dari Pemerintah untuk memberikan THR buat PNS dan pensiunan. Karena aturannya udah ada dan pasti dicairin, mungkin rangorang jadi “ijon” atau “diakui pendapatan”. Nyerbu mall deh buat belanja.

Well, setelah sepuluh tahun memakai blogspot, mungkin sudah saatnya saya hijrah. Hijrah mencari suasana baru. Hijrah mencari dunia baru melalui koneksi blog wordpress yang tiada batas.

Karena app wordpress di hp user friendly banget (gak kayak blogspot), mungkin ke depannya, blog ini akan diisi oleh tulisan saya sendiri (tidak seperti blog di blogspot yang kebanyakan cuman copas faedah. Hehehe)

See you when I see you!

Baarakallahufiikum