born to drive

some people was like born to drive

Seperti om saya di Bekasi. Dari masih pacaran sama tante saya, beliau sudah mau nganter” kami ke Malang, Situbondo, bahkan sampe Bali. Puncaknya saat saya kuliah, beliau nyetirin ibu dan adek saya (dan keluarganya) PP dari Surabaya ke Padangsidempuan!

ibu saya juga sepertinya born to drive. Di usianya yang menginjak 60 tahun, beliau masih kuat nyetir PP Surabaya-Malang dalam keadaan beliau puasa Daud!

but this is my story….

sejak usia 13/14 tahun atau usia 2 SMP, saya sudah disuruh Bapak saya naik motor ke sekolah. SIM C saya peroleh kelas 2 SMA, jadi total saya naik motor di jalan selama 3 tahun tanpa SIM! Wkwkwk. Jangan tanya resmi atau enggak ya ngedapetin SIMnya.

naik motor di jalanan dan merasakan angin menerpa wajah, terus terang, membuat saya nyaman.

Kenyamanan yang melenakan….

….karena saya jadi tidak tergoda sama sekali buat belajar nyetir mobil

reality hit me very hard, ketika saya sudah punya 2 anak dan masih belum juga mahir nyetir mobil. Sebenarnya saya sudah pernah belajar sih, hanya saja hasilnya saat saya turun ke jalan sangat” mengecewakan…

pertama, saya ngebaretin mobil Ibu dan yang kedua, saya ngerusakin bemper mobil kantor

hadeuh…. Emang newbie nih

makin parno lah saya nyetir

hanya saja, mengingat istri saya sedang hamil anak ketiga, dan tidak ada jalan lain bagi kami untuk jalan” selain mobil (ya gak mungkin juga kita naik Vario ke mana” berlima to (tarif Grab dan Gocar juga mahal sih yah)), saya bertekad untuk belajar mobil sekali lagi di Jakarta/Bogor sebelum tahun 2018 ini berakhir.

semoga berjalan lancar. Aaamiinn

Iklan

breaking the fast with old friends

Menjelang Lebaran dan dimulainya musim mudik, undangan buka bersama datang bertubi”. Well, saya bukannya gak setuju dengan konsep buka bersama. Tidak. Saya setuju sekali malah

Malahan, Sabtu kemarin, segenap pengurus dan calon wali murid TK dan TA Anshorussunnah Bogor mengadakan buka bersama di rumah Brigadir Polisi Miyadi alias Abu Nafisah. Tujuan dari buka bersama kala itu jelas. Dimulai pukul 16.30 untuk berdiskusi tentang tahun ajaran baru TA dan TK Anshorussunnah dan pengelolaan ta’lim di Kota Bogor pasca Ramadhan, alhamdulillah diskusi berjalan lancar hingga Maghribpun tiba.

Selepas shalat Maghrib berjamaah, kami pun melanjutkan diskusi dengan menyantap makan malam yang sudah disediakan sampai dengan adzan Isya berkumandang. Setelah itu, kami pamit kepada Abu Nafisah untuk melanjutkan shalat tarawih di tempat masing”.

Konsep seperti itu yang saya suka. Jelas. Gak neko”. Focused.

Masalahnya, kebanyakan bukber yang pernah saya ikuti biasanya mengandung satu atau seluruh unsur dari

  1. Ngomong ngalor-ngidul membahas nostalgia masa lalu
  2. Foto” dan update di media sosial
  3. Ngomong ngalor-ngidul lagi hingga bablas gak shalat tarawih

Bagi saya yang gak suka foto”, ngomong ngalor-ngidul (I’m an introvert, by the way), dan sengaja memfokuskan diri agar rutin tarawih di Ramadhan kali ini, tentu saja undangan bukber” tersebut saya abaikan.

Jadii…….

Maafkan aku ya teman” esemaku yang kurindukan, undangan buka bersama di Gresik terpaksa tidak aku hadiri…

Have fun, guys!

Baarakallahufiikum

N.B. Faktor istri lagi hamil, anak yang lagi aktif”nya, dan kemampuan nyupir yang gak mahir” amat sebenarnya memegang peran penting di sini. Xixixi

along muara bungo and bangko

membaca tulisan GUARDING A HANDFUL OF PARADISE Forest protection through the eyes of two villages membuat saya menjadi nostalgia perjalanan kami ke Taman Nasional Kerinci Seblat bulan Maret lalu….

*

Bekerja di Kementerian Keuangan memang membuka peluang untuk bepergian ke banyak tempat. Kali ini, saya diajak oleh tim dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Flora Fauna Indonesia (FFI) untuk memonitor penggunaan dana UNDP untuk pelestarian harimau sumatera di Taman Nasional Kerinci Seblat.

Mengingat lokasinya yang sangat jauh di pedalaman Jambi, penerbangan dari Jakarta ke Jambi lalu lanjut perjalanan darat sangatlah tidak disarankan. Solusi terbaik adalah menaiki flight ke Muara Bungo lalu lanjut perjalanan darat ke Bangko dan Sungai Penuh. Lebih efisien.

Mengingat bandara Muara Bungo adalah bandara yang kecil, maskapai yang digunakan tentunya bukan maskapai premium. Pilihan pun jatuh ke Nam Air. Maskapai kecil anak perusahaannya Sriwijaya Air. Eh tapi, walaupun maskapai kecil, tapi pesawatnya pake Boeing yang gede itu loh. Dan penumpangnya hampir penuh euy!

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam di udara, sampailah kami di bandara Muara Bungo. To be honest, bandaranya yah.. apa yang mau diharap ya. Gate keberangkatannya aja cuman 1. Bangunannya pun hanya 1 lantai. Lebih mirip terminal bus lah. But overall, adanya bandara ini saja sudah sangat membantu perekonomian Muara Bungo dan sekitarnya.

Bagaimana tidak? Meskipun bandaranya gak terlalu besar, terbukti penumpang Jakarta-Muara Bungo dan sebaliknya hampir selalu penuh. Alhamdulillah. Patut disyukuri upaya pemerintah dalam membangun infrastruktur perhubungan di berbagai daerah.

Dari bandara, kami masih menempuh perjalanan darat lagi sekitar 1,5 jam ke kota Bangko. Di sisi kanan dan kiri, terlihat perkebunan sawit dan perkebunan rakyat. Kalo ngelihat kebun” gitu, saya jadi sedih sih. Itu adalah tanda bahwa hutan Pegunungan Bukit Barisan telah banyak dirambah. Yah not much to see sepanjang perjalanan kecuali hutan, kebun, hutan, kebun.

Sesampainya kami di Bangko, kami langsung meluncur ke markas FFI untuk melakukan diskusi. Diskusi berlangsung sampai sore. Setelah itu kami langsung menuju Hotel Permata untuk beristirahat.

Namanya sih hotel, tapi bentuknya seperti wisma. Front officenya berada di dalam sebuah rumah. Lalu kita akan mendapati sebuah lorong lalu bangunan kamar” yang memanjang ke belakang berbentuk U. Dah gitu aja. Bangunannya juga cuman 1 lantai.

Terus terang, saat itu saya deg”an juga. Lagi berada di pedalaman Jambi gini saya jadi khawatir tidak ada sinyal. Tetapi gak disangka, notifikasi di hp saya menunjukkan sinyal 4G. Ternyata panitia punya alasan memilih hotel yang terpencil ini. Lokasinya ternyata sangat strategis, which is, berdempetan dengan kantor Telkom. Wakakakak. Pantesan sinyalnya kenceng banget.

*to be continued*