loving my kids in my own way

wahai saudaraku…

anak adalah nikmat yang Allah anugerahkan kepada setiap orangtua dan sekaligus fitnah bagi keduanya. Merekalah aset termahal kita, merekalah simpanan yang paling berharga, merekalah tumpuan harapan kita. Akankah kita rela perhatian mereka dicuri orang lain?! Akankah kita tega membiarkan masa emasnya terbuang sia” dengan percuma?! Akankah kita percayakan waktu berharganya habis bersama babysitter yang tidak kenal syariat agama?! Akankah kita merasa aman dari tipu daya setan yang siap menjerat leher” mereka?!

wahai para bapak…

mengapa kalian terlena dengan kesibukan duniawi yang nisbi sementara anak” kalian mengais kasih sayang di jalanan?!

wahai para ibu…

tidakkah kalian sadar? anak” kalian merintih, menangis, bahkan meronta” dalam penjara rumah kalian, sementara kalian bercanda, tertawa terbahak” bersama teman kerja yang tidak mendatangkan kecuali kerasnya hati dan jiwa kalian.

wahai para orangtua…

mengapa kalian tega meninggalkan buah hati kalian bersama pembantu rumah tangga demi mengejar karir dan prestasi yang belum pasti…

kembalilah kalian, kembalilah bersama mereka, rengkuhlah mereka dengan mesra, dekaplah mereka dengan penuh kasih sayang dan kelembutan, ajari dan bimbinglah mereka dengan sepenuh hati dan jiwa. Mereka membutuhkan bimbingan, pendidikan, nasehat, dan peringatan. Mereka sangat haus dengan ilmu syar’i melebihi hausnya mereka dari sekedar minuman tersegar di tengah terik mentari, mereka sangat lapar dengan hidangan gizi Ilahi melebihi laparnya mereka dari sekedar makanan yang paling bergizi…

Iklan

tiring prayer

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

ﺇﻥَّ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ﻟَﻴُﺼَﻠِّﻲ ﺳِﺘِّﻴﻦَ ﺳَﻨَﺔً ﻣَﺎ ﺗُﻘْﺒَﻞُ ﻟَﻪُ ﺻَﻼَﺓٌ، ﻟَﻌَﻠَّﻪُ ﻳُﺘِﻢُّ ﺍﻟﺮُّﻛُﻮﻉَ ﻭَﻻَ ﻳُﺘِﻢُّ ﺍﻟﺴُّﺠُﻮﺩَ، ﻭَﻳُﺘِﻢُّ ﺍﻟﺴُّﺠُﻮﺩَ ﻭَﻻَ ﻳُﺘِﻢُّ ﺍﻟﺮُّﻛُﻮﻉَ.

“Sungguh ada seseorang yang benar-benar mengerjakan shalat selama 60 tahun namun tidak ada yang diterima shalatnya walaupun hanya sekali saja, hal itu mungkin karena dia menyempurnakan rukuk namun tidak menyempurnakan sujud, atau dia menyempurnakan sujud namun tidak menyempurnakan rukuk.

Silsilah ash-Shahihah, no. 2535

*

Suatu malam, karena waktu sudah mepet, saya harus menunaikan shalat tarawih di dekat Stasiun Cilebut. Prosese shalat isya berjalan lancar. Khidmat. Khusyu’.

Setelah itu, saya bertanya ke orang sebelah saya

“Pak, ini tarawihnya berapa rakaat? 11 atau 23?”

“………….23, mas”

Supaya lebih mempersiapkan diri, mengingat waktunya yang kemungkinan besar akan berjalan lama, saya buang air kecil dulu di kamar mandi. Setelah itu, bersiaplah saya tarawih. Eh, orang di sebelah saya tadi nyeletuk

“Wah, imamnya yang ini cepet banget, mas”

Sekelebatan dari shaf belakang, ya memang imamnya ganti sih. Gak nyangka, omongan si bapak terbukti. Shalatnya emang bener cepett bangetttttttt. Bayangin, 20 rakaat kami tempuh dalam waktu sesingkat-singkatnya 20 menit kurang. Berarti kalo dirata” ya 1 rakaatnya kurang dari semenit

Iki shalat model opo ya. Berasa banget lho gak ada tuma’ninahnya kalo pake standar saya. Baru ruku’, eh udah berdiri. Baru berdiri, eh udah sujud. Baru sujud, eh udah duduk. Lah, saya aja belum baca bacaan” ruku, i’tidal, dan sujud, nih imam udah main lanjut aja.

Bukannya enak, malah badan pegel banget karena gerakannya yang simultan dan kecepetan. Saya jadi inget hadits di atas. Duh nyesel lah shalat tarawih di masjid itu lagi…

Baarakallahufiikum