smallest change(s)

Lebaran kemarin, om saya dari Bekasi berkunjung ke rumah saya dari Surabaya. Lalu terjadilah percakapan tersebut. Perbincangan yang membuat saya geleng” kepala sampe sekarang

“Kamu tau gak riz? Pas Ramadhan kemarin, masjid di komplek om berhasil mengumpulkan infaq senilai 500 juta. Hanya dari keropak…”

“Haaaa!!!! Kok bisa sih om???”

“Iya, DKM masjid sadar bahwa warga komplek itu rata” orang yang bekerja di Jakarta. Berkecukupan lah dari segi harta. Nah, sekarang adalah mikirin gimana biar mereka mau mengeluarkan sebagian hartanya buat masjid…

“Lalu caranya gimana om??”

“DKM memutuskan cara yang revolusioner lah menurut om. Keropak yang biasanya beredar, diganti dengan metode petugas yang keliling memakai kantung besar sebagai pengganti keropak. Logikanya gini, seseorang itu cenderung untuk bersedekah sekali saat keropak itu ada di depan mereka. Nah, karena lubangnya kecil dan sempit, maksimal yang mereka berikan ya paling 100 ribu. Begitu “lubang”nya diperbesar melalui kantung besar, uang yang mereka berikan menjadi tidak terbatas dalam sekali bersedekah. Mereka bisa aja masukin segepok duit 5 juta atau 10 juta malah! Dari situlah, DKM bisa ngumpulin uang 500 juta. Hehehe”

.

Terkadang perubahan itu dimulai dari yang paling kecil seperti memperbesar tutup lubang keropak. Anak saya yang paling besar dulu punya kecenderungan gak nurut sama Ibunya. Dia juga kecanduan YouTube. Akhirnya, istri saya punya ide.

Dia ajak Shafiyyah nonton video proses melahirkan di YouTube. Begitu melihat ibu yang kesakitan saat melahirkan, namanya anak” kan fitrahnya masih bersih ya, ketakutan juga dia. Dari sinilah istri saya lalu memasukkan jurusnya..

“Tuh lihat kak. Dulu Ibuk juga sakit saat melahirkan Shafiyyah. Makanya, nurut ya sama Ibuk…”

Setelah istri saya ngomong gitu, Shafiyyah langsung menciumi wajah istri saya lalu bilang,

“Shafiyyah nurut buk…”

Beda lagi dengan adeknya yang selalu punya energi lebih saat malam. Saya coba menganalisis, jangan” nih bocah lagi nyari perhatian saya nih secara seharian gak ketemu. Dari situ, ya saya mulai memberikan perhatian lebih ke dia saat malam hari

Caranya mudah saja, cukup digendong sambil dipukpuk punggungnya, dicombo dengan diajak ngobrol pelan” seperti

“Hanzhalah anak aaa….YAH!. Hanzhalah anak shaa…. LIH! Hanzhalah anak pinnnn…..TAR! Hanzhalah mau booo….BOK!”

Gitu aja terus diulang”. Eh tidur juga dia.

Baarakallahufiikum

Iklan

surabaya update 11 juni 2018

  1. Masjid Al Iman Sutorejo sekarang menerapkan manajemen “get your own ifthar”. Jadi begitu jamaah sampai di masjid, mereka akan disambut 2 line. Pria dan wanita. Setelah ngantre, mereka akan diberi teh, kurma, jajanan, dan kupon nasi kotak (untuk ditukar setelah shalat Maghrib). Pros: mengurangi kekacauan seperti kurangnya jatah orang lain jika makanan dihidang, lebih tertib karena setelah makan mereka akan buang sampah masing” ke tong sampah. Cons: kenapa gak diterapin dari dulu yak. Ide brilian ini.
  2. Spanduk #KamiTidakTakut dan #TerorisJancok masih dapat ditemui di beberapa penjuru kampung dan jalan” arteri. Surabaya gak akan kalah oleh aksi terorisme…
  3. Muter” keliling Surabaya sekarang banyak perubahannya. Kali Mas sepanjang Siola sampai Monkasel sekarang ada lampu hiasnya. Cantik deh. Sayangnya cuman sampai situ doang. Kalau sepanjang Kayoon juga dipasang tentunya akan membuat wisata kuliner di Kayoon jadi lebih instagrammable yah.
  4. Trotoarnya lebar”. Saya perhatikan di sepanjang Siola, Urip Sumoharjo, Raya Darmo sampai Basuki Rahmat sekarang kalo malem banyak pemuda nongkrong. Kemarin malem saya lihat sih kebanyakan pada main gawai. Pada bikin instastories atau youtube entahlah. Yang pasti nongkrong di sana jadi nyaman selain karena lebar dan bersih, juga bebas dari PKL.
  5. Tunjungan Plaza saiki gedunge dhuwur rek. Manglingi banget! Senengnya, fasad depan dari eks Toko Nam dibiarin. Alhamdulillah, cagar budaya ituh.
  6. Cuman perasaan saya aja apa sentra kuliner di Surabaya sekarang makin banyak ya. Bagusnya, kebanyakan yang saya lihat sih rame semua euy. Ancen wong Suroboyo senengane andok (makan di luar rumah)! Hahaha